Jauh di dalam hutan halimun Amerika Selatan, club-winged manakin yang mungil bernyanyi dengan sayapnya. Para ilmuwan baru saja mulai meneliti evolusi perilaku yang rumit, aneh, dan amat menghibur ini.
OLEH DAN KOEPPEL
FOTO OLEH TIM LAMAN
Menyaksikan burung manakin beraksi seperti menemukan pertunjukan tari dan lagu yang spektakuler di tengah hutan. Sekitar setengah dari 40 spesies manakin yang dikenali, mengeluarkan musik dengan menggerakkan anggota badannya. Untuk merayu lawan jenisnya, sang jantan melakukan berbagai manuver seperti gerak cepat, putar badan, berdiri tegak, dan meluncur mundur (seperti moonwalk Michael Jackson).
Charles Darwin menulis tentang manakin dalam The Descent of Man: “Keragaman suara... dan keragaman alat untuk menghasilkan suara tersebut, sungguh menakjubkan. Dengan demikian kita memahami pentingnya suara tersebut untuk kawin.” Namun, baru lebih dari satu abad kemudian mekanisme pembuatan musiknya terungkap.
Hanya segelintir ornitolog peneliti club-winged manakin yang hidup di Kolombia dan Ekuador. Mungkin tidak ada yang lebih mengenal burung itu daripada Kim Bostwick. Bostwicklah, seorang kurator burung dan mamalia di Cornell University Museum of Vertebrates—yang memecahkan misteri club-winged manakin, yang paling menonjol di antara manakin lainnya. Inilah spesies satu-satunya yang menggunakan bulunya untuk menghasilkan suara tik, tik, ting dengan tujuan membuat lawan jenisnya mabuk kepayang.
Para ilmuwan tahu bahwa sayap merupakan sumber suara itu, tetapi tidak tahu persis cara kerjanya. Bostwick merekam gerakan burung tersebut dengan kamera video berkecepatan seribu bingkai per detik, lebih dari 30 kali kecepatan perekam gambar standar. Gerak lambat video memecahkan misteri tersebut: Burung itu menepukkan kedua sayapnya 107 kali per detik.
Dalam makalah yang akan diterbitkan tahun ini, Bostwick dan rekan-rekannya menjelaskan pemindaian CT mikro terhadap sayap manakin dan menemukan bahwa tulang sayap tersebut pejal. Sebagian besar burung memiliki tulang berongga, yang meringankan beban saat di udara. Tulang besar manakin yang besar tersebut, menurut Bostwick, kemungkinan berevolusi guna mendukung ketukan bulu-bulunya yang besar.
Sumber : National Geographic Indonesia









