MAUL-UNDERGROUND

Slide Title 1

Aenean quis facilisis massa. Cras justo odio, scelerisque nec dignissim quis, cursus a odio. Duis ut dui vel purus aliquet tristique.

Slide Title 2

Morbi quis tellus eu turpis lacinia pharetra non eget lectus. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Donec.

Slide Title 3

In ornare lacus sit amet est aliquet ac tincidunt tellus semper. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Slide Title 4

In ornare lacus sit amet est aliquet ac tincidunt tellus semper. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Slide Title 5

In ornare lacus sit amet est aliquet ac tincidunt tellus semper. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Rabu, 09 Mei 2012

Burung Manakin - Sang Virtuoso


Jauh di dalam hutan halimun Amerika Selatan, club-winged manakin yang mungil bernyanyi dengan sayapnya. Para ilmuwan baru saja mulai meneliti evolusi perilaku yang rumit, aneh, dan amat menghibur ini.
OLEH DAN KOEPPEL
FOTO OLEH TIM LAMAN


Menyaksikan burung manakin beraksi seperti menemukan pertunjukan tari dan lagu yang spektakuler di tengah hutan. Sekitar setengah dari 40 spesies manakin yang dikenali, mengeluarkan musik dengan menggerakkan anggota badannya. Untuk merayu lawan jenisnya, sang jantan melakukan berbagai manuver seperti gerak cepat, putar badan, berdiri tegak, dan meluncur mundur (seperti moonwalk Michael Jackson).

Charles Darwin menulis tentang manakin dalam The Descent of Man: “Keragaman suara... dan keragaman alat untuk menghasilkan suara tersebut, sungguh menakjubkan. Dengan demikian kita memahami pentingnya suara tersebut untuk kawin.” Namun, baru lebih dari satu abad kemudian mekanisme pembuatan musiknya terungkap.

Hanya segelintir ornitolog peneliti club-winged manakin yang hidup di Kolombia dan Ekuador. Mungkin tidak ada yang lebih mengenal burung itu daripada Kim Bostwick. Bostwicklah, seorang kurator burung dan mamalia di Cornell University Museum of Vertebrates—yang memecahkan misteri club-winged manakin, yang paling menonjol di antara manakin lainnya. Inilah spesies satu-satunya yang menggunakan bulunya untuk menghasilkan suara tik, tik, ting dengan tujuan membuat lawan jenisnya mabuk kepayang.

Para ilmuwan tahu bahwa sayap merupakan sumber suara itu, tetapi tidak tahu persis cara kerjanya. Bostwick merekam gerakan burung tersebut dengan kamera video berkecepatan seribu bingkai per detik, lebih dari 30 kali kecepatan perekam gambar standar. Gerak lambat video memecahkan misteri tersebut: Burung itu menepukkan kedua sayapnya 107 kali per detik. 

Ketika meneliti bulu sekunder burung ini di laboratorium, Bostwick melihat bahwa pada setiap sayap ada satu bulu khusus yang memiliki tujuh gerigi. Bulu kelima menggesek bulu bergerigi tersebut seperti plektrum, seperti alat pemetik gitar—hingga mencapai frekuensi menakjubkan 1.500 siklus per detik (tujuh gerigi, masing-masing dipetik dua kali = 14, kali 107 = 1.498). Hasilnya adalah nada seperti suara biola.

Di dunia terdapat hampir 10.000 spesies avifauna, tetapi tidak ada yang bersuara dengan cara seperti ini—yaitu dengan cara menggesekkan anggota tubuhnya (meskipun jangkrik melakukan hal serupa).

Dalam makalah yang akan diterbitkan tahun ini, Bostwick dan rekan-rekannya menjelaskan pemindaian CT mikro terhadap sayap manakin dan menemukan bahwa tulang sayap tersebut pejal. Sebagian besar burung memiliki tulang berongga, yang meringankan beban saat di udara. Tulang besar manakin yang besar tersebut, menurut Bostwick, kemungkinan berevolusi guna mendukung ketukan bulu-bulunya yang besar. 

Namun, dia penasaran bagaimana cara burung seukuran sembilan sentimeter ini membawa beban ekstra tersebut saat terbang? Dan bagaimana cara menangani “kebutuhan energi serta fisik yang terlibat dalam penggunaan sayap itu”? Itulah misteri manakin berikutnya yang harus dipecahkan.
Sumber : National Geographic Indonesia
»» Read more ^_^

Dua Orangutan, Berlian dan Hamzah, Dilepasliarkan



Berlian dan Hamzah, dua orangutan hasil rehabilitasi Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), berhasil dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Minggu (6/5). Ini adalah pelepasliaran kedua di tahun 2012 setelah di akhir Februari lalu dilepas empat orangutan di Kawasan Hutan Lindung Bukit Batikap, Kalimantan Tengah.

Sehari sebelum dilepasliarkan, Hamzah dan Berlian diterbangkan dengan helikopter menuju Hutan Kehje Sewen. Mereka lebih dulu menuju Gunung Belah dan diinapkan semalam untuk aklimatisasi. Tepat pada Minggu pagi, keduanya dilepasliarkan, dengan kandang Berlian yang lebih dulu dibuka.

Meski sudah bertahun-tahun berada dalam perlindungan manusia dalam, insting Berlian tidak tumpul. Orangutan betina yang diselamatkan tahun 2006 di Samarinda ini langsung menuju pohon terdekat dan memanjatnya.

Reaksi takut malah dirasakan Hamzah ketika pertama kali kandangnya dibuka. Dia lebih dulu melihat kondisi sekitar hingga akhirnya menuju pohon terdekat dan menaikinya.

Rencananya masih ada beberapa orangutan lain yang akan menyusul langkah Hamzah dan Berlian. Sesuai dengan traget dapat Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017 yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam Konferensi Perubahan Iklim di Bali tahun 2007 lalu. Target utamanya adalah pengembalian habitat orangutan paling lambat pada 2015 mendatang.

"Untuk dapat mencapai target pelepasliaran orangutan pada 2015, dibutuhkan lebih banyak lagi lahan restorasi ekosistem," kata CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite dalam rilisnya, Selasa (8/5).

"Untuk itu berbagai upaya terus dilakukan bekerjasama dengan Pemerintah Kalimantan Timur, baik Pemerintah Kabupaten Kutai Timur maupun Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara."

Hutan Kehje Sewen merupakan hutan yang Izin Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) dikelola oleh PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI). Dengan izin ini, pengelola dapat menggunakan kawasan hutan yang sangat dibutuhkan untuk melepasliarkan orangutan hasil rehabilitasi.

Ketua Dewan Pembina Yayasan BOS Bungaran Saragih mengaku gembira atas usaha pelepasliaran kali ini. "Semoga ke depannya akan lebih banyak lagi pihak yang terlibat, demi tercapainya tujuan bersama yaitu mengembalikan seluruh orangutan yang ada di pusat reintroduksi ke habitat aslinya," katanya.
(Zika Zakiya. Sumber: BOSF)
»» Read more ^_^

Minggu, 08 April 2012

Kondisi Pesut Mahakam di Perairan Kalimantan Timur Kritis


Pesut mahakam termasuk satwa di ambang kepunahan. Saat ini, pesut mahakam berada di kategori kritis atau berstatus rawan punah menurut badan International Union for Conservation of Nature (IUCN).


Eksistensi pesut mahakam (Orcaella brevirostris), mamalia air tawar endemik Kalimantan Timur, mendapat ancaman tambahan dari pembukaan lahan perkebunan sawit. Polutan dari kebun-kebun sawit mengakibatkan air tercemar, dan ikan yang menjadi makanan pesut semakin berkurang.
Peneliti pesut mahakam dari Universitas Amsterdam, Belanda yang bekerja sama dengan Yayasan Konservasi untuk Spesies Air Tawar Langka Indonesia (RASI) Danielle Kreb menyatakan, jumlah populasi pesut mahakam di pesisir Kalimantan Timur pada tahun 2010 diperkirakan sekitar 90 ekor. Namun, kondisi populasinya ini kian memprihatinkan.
"Habitat hidup pesut terkonsentrasi pada aliran sungai yang dalam, padahal daerah tersebut merupakan daerah penangkapan ikan, sehingga lalu lintas angkutan sungai pun semakin ramai. Akibatnya, banyak pesut yang terjerat jaring nelayan atau tertabrak kapalspeedboat," kata Kreb pada lokakarya Pelestarian Pesut Borneo, di Jakarta (20/3).

Gangguan lain bagi pesut adalah aktivitas tambang batu bara. "Pengangkutan batu bara dengan kapal ponton menganggu indera pesut. Orang yang mencari dan menangkap ikan dengan mengandalkan sonar (echolocation) jika telinganya rusak, mereka tidak dapat menemukan makanan."Selain itu bahan-bahan kimia dari perusahaan penambangan emas, juga sangat meracuni ikan. Ditambah lagi sekarang, ujarnya, pupuk serta herbisida dari perkebunan sawit yang memanfaatkan area di tepi sungai ikut mengontaminasi aliran air dan menyebabkan ikan mati.
(Gloria Samantha - National Geographic)
»» Read more ^_^

Jumat, 06 April 2012

Burung Sekawan


Walaupun terkenal, kita tidak tahu banyak tentang burung ini.


Flamingo terlihat seperti burung yang dirancang balita periang—kaki panjang tidak kepalang, pergelangan kaki berbonggol (yang mirip lutut), leher meliuk-liuk, dan paruh kebesaran—lalu diwarnai dengan krayon paling terang. Namun, paduan keanehan fisik tersebut memungkinkan flamingo karibia berkembang biak di danau asin, dataran lumpur, laguna pasang surut, dan rawa bakau. Dengan paruh bengkoknya hewan ini mengeruk gumpalan lumpur untuk membuat sarang. Bulu kaku di dalam paruhnya menyaring air yang berisi krustasea, moluska, dan serangga kecil serta larvanya, di samping tumbuhan air.

Dan bulu nan megah itu? Keberadaannya seolah khusus untuk menghibur kita, tetapi sebenarnya bulu itu awalnya tidak berwarna merah muda. Piyik yang baru menetas berbulu putih yang lalu berubah abu-abu—kemudian memperoleh warna merah mudanya dari bakteri yang hidup di air dan beta-karotena yang diperolehnya dari makanan.

Meskipun flamingo kini menjadi dekorasi pasaran yang diabadikan oleh hiasan halaman murahan dari plastik, anehnya burung ini tetap misterius. "Walaupun terkenal, kita tidak tahu banyak tentang burung ini," kata Chris Brown, kurator burung di Dallas Zoo and Children’s Aquarium, yang meneliti flamingo di Semenanjung Yucatán Meksiko. Para ilmuwan masih tidak mengetahui pasti mengenai perilaku sederhana sekalipun, seperti kecenderungan untuk berdiri dengan satu kaki. (Beberapa berteori bahwa itu ada hubungannya dengan cara tidur burung tersebut.) Dan karena flamingo tinggal di daerah terpencil dan berpindah tempat seiring banjir atau keringnya tempat makannya, peneliti mengalami kesulitan menghitung dan melacaknya—atau meneliti pengaruh kekeringan, badai, dan tinggi air yang berfluktuasi akibat perubahan iklim atau pembangunan pesisir terhadap spesies ini.

Yang kita tahu adalah bahwa flamingo dalam kawanan besar di alam liar suka berkumpul dan sangat setia. Hewan ini melakukan tarian kawin bersama-sama. Induknya menyayangi anaknya, para piyik dikumpulkan bersama agar terlindung saat kedua induknya terbang mencari makan. Dan ketika ada bahaya mendekat, ribuan burung terbang serentak—laksana gerakan balet yang dapat memperbesar kemungkinan selamat dalam dunia nan berbahaya.
OLEH NANCY SHUTE 
FOTO OLEH KLAUS NIGGE
Sumber National geographic
»» Read more ^_^

Kamis, 05 April 2012

8 Fakta Tentang Air Dunia





Dalam rangka Hari Air Sedunia 2012 yang jatuh pada hari Kamis (22/3) lalu, The Earth Institute Columbia University memberikan beberapa fakta mengenai air dan makanan yang ada di Bumi.

Berikut ini adalah fakta-fakta yang dipaparkan oleh The Earth Insitute.

1. Jika diakumulasikan, penggunaan air di India, Cina, dan Amerika Serikat adalah satu pertiga dari jumlah seluruh air di dunia.

2. Lebih dari 90 persen penggunaan air adalah untuk pertanian dan perkebunan. Walaupun begitu, hanya 16 persen lahan yang telah teririgasi dari sekian banyak penggunaan air untuk pertanian.

3. 16 persen lahan yang teririgasi menghasilkan 36 persen bahan makanan.

4. Ekstraksi air tanah meningkat tiga kali lipat hanya dalam waktu lima tahun. Konsumsi air tanah di Cina dan India meningkat sepuluh kali lipat sejak tahun 1950.

5. Penggunaan air tanah yang begitu besar berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut sebanyak 25 persen dalam beberapa tahun terakhir.

6. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Climate Dynamics, penggunaan air tanah juga mengubah iklim lokal dan mempercepat pemanasan global.

7. Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), pada tahun 2030 hampir setengah populasi manusia yang ada akan kekurangan air.

8. Krisis air akan mengancam kelangsungan pembangkit listrik di dunia. Krisis air yang diakibatkan permintaan yang tinggi akan membuat pembangkit listrik tidak berfungsi.

(Arief Sujatmoko. Sumber: The Earth Institute)
»» Read more ^_^

Rabu, 04 April 2012

Lumba-lumba Terkecil di Dunia Terancam Punah



Pemerintah Selandia Baru mengumumkan turunnya jumlah populasi lumba-lumba terkecil di dunia, lumba-lumba Maui (Cephalorhynchus hectori maui). Spesies ini hanya berjumlah 55 individu dewasa, turun drastis dibanding tahun 2005 yang mencapai 111 individu.
Penyebab utama penurunan jumlah lumba-lumba yang hanya memiliki panjang 1,7 meter ini diperkirakan karena terjerat jaring pukat. Di mana jumlah kematian terbesar karena jaring tersebut terjadi di Januari 2012. "Angka terakhir dari populasi ini menunjukkan jika kita harus bertindak sekarang, tak ada pilihan lain," ujar pegiat lingkungan, Katrina Subedar dari LSM Selandia Baru, Forest and Bird, dikutip dari Mongabay.

"Penundaan dalam jenis apa pun bisa berujung pada kematian lebih banyak lumba-lumba di jaring ikan hingga mencapai titik yang tak bisa ditolong lagi."
Dari 55 individu lumba-lumba ini, diperkirakan hanya ada 20 betina. Namun, diragukan mereka bisa menambah individu baru dalam waktu dekat. Pasalnya, spesies ini butuh tujuh tahun untuk bisa berkembang biak dan hanya memproduksi satu individu dalam kurun beberapa tahun.
Menurut grup konservasi Selandia Baru, penyelamatan lumba-lumba Maui bisa terjadi jika ada tindak nyata berjangka panjang dari Pemerintah. Terutama dari Menteri Perindustrian yang melarang penggunaan jaring pukat di habitat lumba-lumba Maui. "Kita tahu ada solusi yang bisa menyelamatkan (lumba-lumba) Maui. Sudah saatnya pemerintah bertindak atas nama warga Selandia Baru untuk melindungi harta nasional ini," kata Manajer Program Kelautan WWF-Selandia Baru Rebecca Bird.
Lumba-lumba Maui merupakan sub-spesies dari lumba-lumba Hector (Cephalorhynchus hectori) dan biasa ditemukan di perairan Selandia Baru. Dalam daftar yang dirilis International Union for Conservation of Nature (IUCN), mereka masuk dalam spesies terancam punah. Nasib kedua spesies ini pun sama, terancam jaring pukat dan aktivitas memancing dari manusia.
(Zika Zakiya. Sumber: Mongabay)
»» Read more ^_^