2024, Es Di Puncak Jaya, Papua Diperkirakan Meleleh – MAUL-UNDERGROUND

Kamis, 27 Oktober 2011

2024, Es Di Puncak Jaya, Papua Diperkirakan Meleleh




Lapisan es Puncak Jaya, Papua, diperkirakan akan hilang pada tahun 2024. Perhitungan tersebut didasarkan atas analisis data empiris menggunakan pendekatan linier yang dikerjakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

”Analisis itu mengejutkan kami,” kata Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Klimatologi dan Kualitas Udara BMKG Dodo Gunawan pada diskusi bulanan ”Scientific Journal Club” di Jakarta, Selasa (11/10). Bulan Mei-Juni 2010, BMKG bekerja sama dengan Universitas Ohio dan Universitas Columbia, Amerika Serikat, mengadakan penelitian sejarah iklim dan lingkungan berdasarkan inti es di Puncak Jaya.

Pada ekspedisi tahun lalu itu, luas lapisan es (gletser) di Puncak Jaya diperkirakan mencapai dua kilometer persegi dengan ketebalan sekitar 30 meter. Adapun prediksi hilangnya lapisan es juga didasarkan atas perbandingan ketinggian gletser di Puncak Jaya (4.884 meter di atas permukaan laut/mdpl) dan luasannya.

Tim peneliti, yang dipimpin ahli gletser dari AS, Prof Lonnie Thompson, mengambil sampel tiga inti es di tiga titik di lokasi Puncak Soekarno dan Puncak Sumantri.
Pada saat itu, tim menjumpai fenomena mengejutkan, yakni betapa cepatnya penyusutan gletser. Dalam dua minggu, lapisan es menyusut sebanyak 30 sentimeter, yang terlihat dari jejak es berbentuk kotak di lokasi tenda didirikan.

”Profesor saya (Lonnie Thompson) baru sekali menemukan fenomena semacam itu,” kata anggota staf litbang BMKG, Donaldi Sukma Permana, yang baru saja lulus program master Paleoiklim dari Universitas Ohio. Thompson dikenal sebagai salah satu pakar gletser di dunia.
Diakui Donaldi, penyusutan es terkait banyak hal. Namun, fakta itu tetap saja membuat anggota tim terkejut. Ia dan Dodo Gunawan terlibat langsung dalam ekspedisi tahun lalu itu.

Dampak penyusutan
Menurut Dodo, dampak pasti penyusutan dan hilangnya gletser Puncak Jaya belum dianalisis lebih rinci. Yang pasti, variasi suhu kemungkinan besar akan berubah. Begitu pula sistem hidrologi di sana.
Berdasarkan analisis data dari 13 sensor otomatis pemantau cuaca (AWS) milik PT Freeport Indonesia di Mimika, Papua, tahun 2010, pada ketinggian di atas 600 mdpl, hujan lebih sering terjadi di siang hari. Kondisi sebaliknya terjadi di daerah yang berada di bawah 600 mdpl.

”Kami belum tahu pasti apa saja yang akan terjadi bila gletser terus menyusut dan akhirnya hilang,” kata Dodo. Salah satu hasil penelitian sejarah iklim akan menjawab pertanyaan tersebut.
Dengan mengetahui sejarah iklim lewat lapisan gletser yang dianalisis, tim juga akan mengetahui berbagai perubahan pada masa datang. ”Sejauh ini kami belum banyak informasi. Bahkan, umur gletser di Puncak Jaya pun belum diketahui,” kata Donaldi.

Penyebabnya, tidak ditemukan fosil organisme yang terjebak di sampel inti es. Jumlah potongan yang harus dianalisis pun mencapai puluhan ribu.
Di tengah analisis inti es yang masih berlangsung, BMKG berencana memasang sensor otomatis pemantau cuaca di Puncak Jaya dan mengambil sampel sedimen sejumlah danau di sana. ”Mudah-mudahan bisa segera terwujud,” kata Dodo.

Penelitian iklim di Puncak Jaya dinilai strategis. Puncak Jaya menjadi satu dari tiga gletser tersisa di kawasan tropis, selain Kilimanjaro, Tanzania (5.895 mdpl di Afrika), dan Andes, Peru (6.962 mdpl di Amerika Selatan). Data sejarah iklim di Puncak Jaya akan menambah informasi tentang fenomena perubahan iklim ekstrem di kawasan tropis.

*sumber : kompas.com

Artikel Terkait

0 comments:

SAVE THE EARTH

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...